H-4 MENUJU BILIK SUARA




Iklim Indonesia akhir-akhir ini terasa begitu panas. Fakta bahwa kontestan PILPRES hanya ada dua slot, akhirnya menghasilkan dua pendukung saja. Keberhasilan Jokowi dalam memuluskan Presidential Threshold telah merubah konstalasi di 2019. Upaya itu tidak lain untuk menjegal usaha SBY dalam percaturan di tahun politik ini (PILPRES). Dan berharap rematch di 2014 versus Prabowo bisa diulangi dengan kemenangan di kubu Jokowi. Karena terlalu banyak kelemahan Prabowo yang sudah dikantongi.

Untuk menuju istana yang kedua kalinya, Jokowi sesungguhnya telah puluhan tahun melakukan politik pencitraan. Hal itu dimulai ketika beliau menjabat Walikota Solo, Gubernur DKI dan Presiden kemarin. Dan usaha lain juga sudah dimaksimalkan. Salah satunya melakukan politik devide et impera di tubuh partai politik. Semua itu sudah memenuhi indikator ketercapaian. Dilain sisi, Prabowo baru benar-benar Kampanye kurang lebih 1 tahun ini.

Jokowi awalnya seakan tak tersentuh. Elektabilitasnya konsisten. Namun perkara Ahok membuat "round down" agenda Jokowi "agak" berantakan. Karena berujung pada kekalahan di PILKADA DKI. Walaupun sebenarnya DKI bukan satu-satunya penyumbang suara terbesar untuk skala PILPRES. Namun pihak istana (seolah-olah) tidak menunjukkan kepanikan.

Pihak istana sebetulnya menyadari dari kekalahan di DKI ada konsekuensi besar yang harus ditanggung, esensinya bukan tentang kemenangan Anies Baswedan melainkan terbentuknya kesadaran masyarakat yang massif yang menurut penulis kesadaran itu didasari oleh hal yang tidak dapat diukur dalam konteks fisik. Ada sebuah motivasi besar yang menggerakkan masyarakat yang kemudian hari ini tidak bisa diambil hatinya oleh pihak istana. Motivasi itu berangkat dari kekecewaan kepada Jokowi dan kalaupun hari ini motivasi itu disandarkan pada bahu Prabowo itu karena Jokowi sudah terlanjur "memaksakan" Presidential Threshold, kalau saja ada calon ketiga bisa jadi pihak istana akan benar-benar rileks.

Ke-tidakrileks-an itu akhir-akhir ini begitu terasa. Pengkondisian seluruh elemen yang gajinya ditanggung pemerintah. Namun nyatanya hal itu justru membuat masyarakat (pendukung Prabowo) lebih militan, baik dalam memberi dukungan di sosmed, menghadiri kampanye yang justru mereka berinfaq, dan mengawal TPS nantinya. Bak buah simalakama, awalnya Jokowi tidak menunjukkan politik identitas. Tapi endingnya beliau menjadi pemerannya juga.

Dalam kacamata filsafat, nilai fisik terletak pada metafisiknya. Seseorang akan melakukan apa saja kalau ia berangkat dari sesuatu yang bersifat metafisik. Bahwa munculnya kesadaran itu banyak faktornya, dalam konteks ini bisa jadi karena kecewa, kena PHP, dsb. Ustadz Haikal Hassan di ILC beberapa hari kemarin menerangkan, memang benar Jokowi tidak mengecewakan Ummat Islam secara verbal, namun menurut beliau kelakuan (Jokowi) lebih menyakitkan daripada sekedar ucapan.

Fenomena ini terus berlanjut sampai hari-hari ini. Beberapa hari kemarin Ustadz Kondang Abdus Somad berdialektik langsung dengan Prabowo dan disusul oleh Ustadz Adi Hidayat, dan yang terbaru adalah Ustadz Abdullah Gymnastiar (Aa Gym). Walaupun tidak ada dukungan secara verbal, namun masyarakat luas sudah dapat menafsirkan sendiri.

Jokowi bagus menurut pendukungnya. Prabowo bagus menurut pendukungnya. Perdebatan ini tidak akan pernah selesai. Karena semua orang beranjak dari ranah episteme dan being-nya. Hal ini kemudian membentuk persepsi masing-masing. Beda persepsi bisa menyebabkan berantem, cerai dan bahkan perang.

Tulisan ini di tulis oleh: Kakanda Almuhajirin Sekretaris umum Bpl Hmi Cabang Palembang 2015-2016

Posting Komentar

0 Komentar