SURUPAN EGOISME DAN NASIHAT KESEDIHAN


Beberapa hari yang lalu kita (20/9) dikecewakan oleh suatu hal yang membuat kita bersedih akan hal itu. Sesuatu hal itu adalah sebuah tindakan egoisme seorang akademisi. Tentunya bukan bersedih karena tidak lulus dalam ujian, saya menganggap yang mestinya tidak lulus adalah pribadi egoisme seorang akademisi tersebut.
Prof. Idzam Fautuna, pernah mengatakan egoisme yang hanya mementing diri sendiri, menutup diri terhadap adanya kebenaran lain, tidak mendengarkan dan mempertimbangkannya, serta tidak bersedia menerima pendapat yang baik, maka potensi kekeliruan meliputi dirinya sehingga sulit berkembang keilmuannya. Dalam hal ini, egoisme jika tidak diletakkan pada yang semestinya maka akan menjadi sebuah perilaku yang buruk (merugikan orang lain).
Bagi kita yang merasa dirugikan, kita juga tidak boleh menganggap bahwa diri kita adalah sudah benar baik perilaku, pemikiran dan juga tindakan kita. Kita juga tidak boleh menyalahkan manusianya. Toh, manusia sebagai gudang kesalahan, lalu siapa yang mestinya kita salahkan?. Kita menyalahkan egoisme yang pada kasus tersebut begitu menonjol dan tidak terbuka terhadap kemungkinan kebenaran yang lain.
Seseorang penulis buku psikologi, tentunya memahami bagaimana dampak psikis yang akan terjadi pada pihak yang dirugikan. Tidak bisa memaksakan kehendak diri anda terhadap kehendaknya orang lain, karena setiap orang memiliki kehendaknya masing-masing. Kehendak kita dapat bersama ketika kehendak itu memiliki tujuan dan kepentingan yang sama. Tetapi dalam hal ini, kita memiliki kehendak yang berbeda (kontradiktif) terhadap egoisme akademisi tersebut. Pikirkan solusi yang terbaik sehingga tidak ada kerugian hanya pada salah satu pihak saja adalah sebuah kebaikan. Bukankah kebaikan dianjurkan dalam islam tanpa memandang latar belakang seseorang tersebut, pertanyaannya adalah sudah islamkah kita atau anda?
Saudari, saya pernah membaca bukunya Ari Ginanjar Agustian, bahwa seseorang yang god spotnya terselimuti oleh kabut hitam, maka sulit baginya untuk mendengarkan, juga mempertimbangkan kemungkinan kebenaran yang ada pada diri yang lain. Tentunya banyak faktor yang mempengaruhi selimut kabut hitam pada god spot seorang akademisi tersebut, namun salah satunya yaitu prasangka buruk yang ia prasangkakan, rasa kebencian dll. God spot itu adalah hati nurani cuman dalam bahasanya Ari Ginanjar disebutnya god spot.
Sebetulnya tulisan ini saya lontarkan dalam sebuah nasihat untuk saudari, tetapi sepertinya saya juga menyadari bahwa kepantasan tidaklah tepat untuk membawa sebuah nasehat untuk saudari. Maklum saya tahu betul diri saya masih jauh dari kata bijaksana ataupun sebagai mana orang memiliki kualitas spiritual yang tinggi. Tulisan inipun diliputi dengan persaan ketidak sukaan. Untungnya saya pernah membaca bukunya Dr. Aidh al-Qarni yang berjudul La Tahzan, sebuah karya yang sangatlah tepat untuk situasi yang sedang saudari hadapi. Jadi saya serahkan kepadanya yang pantas untuk memberikan sebuah nasehat. Atau begini nasehat yang terbaik itu datang dari lubuk hati diri kita masing-masing, maka mintalah nasehat daripada hati saudari, tetapi saya peringatkan hati disini saat hati kita bersih begitu kata Habib Umar Bin Hafizh.

Jangan bersedih
Ada sebuah ungkapan “jangan katakan ya Allah alangkah besar masalah yang kau timpakan padaku, tetapi katakanlah wahai Masalah Allah itu Maha Besar”. Tidak ada suatu kejadian apapun bahkan sampai jatuhnya daun dari tangkainya tanpa sepengetahuan Allah SWT.
Ketika bumi terasa menyempit dikarenakan himpitan persoalan hidup, dan jiwa serasa tertekan oleh beban berat kehidupan yang harus Anda pikul, menyerulah:"Ya Allah!" Setiap ucapan baik, doa yang tulus, rintihan yang jujur, air mata yang menetes penuh keikhlasan, dan semua keluhan yang menggundahgulanakan hati adalah hanya pantas ditujukan ke hadirat-Nya. Allah: milik-Nya semua kekayaan, keabadian, kekuatan, pertolongan, kemuliaan, kemampuan, dan hikmah. Allah: dari-Nya semua kasih sayang, perhatian, pertolongan, bantuan, cinta dan kebaikan. Allah: pemilik segala keagungan, kemuliaan, kekuatan dan keperkasaan.
Ya Allah, gantikanlah kepedihan ini dengan kesenangan, jadikan  kesedihan itu awal kebahagian, dan sirnakan rasa takut ini menjadi rasa tentram. Ya Allah, dinginkan panasnya kalbu dengan salju keyakinan, dan padamkan bara jiwa dengan air keimanan. Hanya kepada-Mu kami bersandar dan bertawakal. Hanya kepada-Mu kami memohon, dan hanya dari-Mu lah semua pertolongan. Cukuplah Engkau sebagai Pelindung kami, karena Engkaulah sebaik-baik Pelindung dan Penolong.
Mengingat dan mengenang masa lalu, kemudian bersedih atas nestapa dan kegagalan didalamnya merupakan tindakan bodoh dan gila. Itu, sama artinya dengan membunuh semangat, memupuskan tekad dan mengubur masa depan yang belum terjadi. Orang yang berpikiran jernih tidak akan pernah melibat dan sedikitpun menoleh ke belakang. Pasalnya, angin akan selalu berhembus ke depan, air akan mengalir ke depan, setiap kafilah akan berjalan ke depan, dan segala sesuatu bergerak maju ke depan. Maka itu, janganlah pernah melawan sunah kehidupan! Perbanyaklah membaca istighfar agar Anda dapat menemukan jalan keluar, mendapatkan ketenangan batin.

Catatan:
Tulisan tersebut merupakan pelipur lara duka hati untuk sahabat saya, Ari Wahyuni namanya dikala beliau sedang ditempa oleh permasalahan pelik sebagai insan akademis di kampus UIN Raden Fatah Palmbang.

Posting Komentar

0 Komentar